Home » » ODF Penting, Kesinambungan Perubahan Perilaku Lebih Penting

ODF Penting, Kesinambungan Perubahan Perilaku Lebih Penting

ODF Penting, Kesinambungan Perubahan Perilaku Lebih Penting
Pembelajaran mengenai hubungan antara kesinambungan perubahan perilaku dan pelembagaan proses verifikasi ODF (open defecation free)
***
APA YANG TELAH DILAKUKAN?
Pendekatan CLTS (Community Led Total Sanitation) yang fenomenal diperkenalkan ke Indonesia sekitar tahun 2006 melalui pilotting di beberapa kabupaten di Indonesia yaitu: Bogor, Lumajang, Muaraenim, Muarajambi, Sambas, dan Sumbawa.
Serupa dengan proyek atau program lainnya yang bertebaran di Indonesia, kendala klasik yang selalu terjadi adalah lemahnya pemantauan dan kontrol terhadap pencapaian hasil dan validitas informasinya. Sebagai contoh, tujuan pertama dari proses perubahan perilaku sanitasi masyarakat dengan penerapan CLTS adalah pencapaian status “bebas dari kondisi buang air besar sembarangan”, atau lebih sering dikenal sebagai status ODF.
Namun banyak yang bertanya:
  • Sejauhmana pencapaian status ODF tersebut benar-benar terjadi? Bagaimana memastikannya?
  • Bagaimana memastikan bahwa jamban yang dibangun masyarakat sudah memenuhi syarat?
  • Bagaimana memastikan perubahan perilaku di masyarakat yang terjadi adalah untuk seterusnya?
  • dan seterusnya
Terkadang kita lupa dengan visi utama kita dalam membuat perubahan perilaku sanitasi di masyarakat menjadi sesuatu yang permanen, dan terjebak pada event ceremonial deklarasi ODF, tanpa tahu kedalaman informasi ODF-nya.
Selama intervensi program SToPS (Sanitasi Total - Pemasaran Sanitasi) di wilayah Jawa Timur, tim TSSM (Total Sanitation - Sanitation Marketing) berupaya keras memperkenalkan dan mendemonstrasikan proses verifikasi ODF sebagai bagian tidak terpisahkan dari proses pemicuan masyarakat.
Secara garis besar kegiatan yang dilakukan dalam mendorong kelembagaan proses verifikasi ODF ini di Jawa Timur antara lain:
  • Memasukkan verifikasi ODF sebagai bagian pelatihan demand plus tahap 2 (dua) bagi fasilitator lapangan;
  • Orientasi sistem monitoring dan evaluasi program sanitasi total berbasis masyarakat bagi pengelola program sanitasi kabupaten. Verifikasi ODF menjadi salah satu bagian materi yang diajarkan, meliputi pengenalan verifikasi ODF di kelas dan praktek lapangan di lokasi pemicuan;
  • Advokasi melalui workshop, termasuk melalui kegiatan “learning stakeholder meeting”.
  • Menyusun alat bantu mengenalkan verifikasi ODF:
APA YANG BERJALAN DENGAN BAIK?
Pedoman dan alat bantu yang disiapkan diadaptasi oleh pemerintah kabupaten dan provinsi. Pada kabupaten-kabupaten yang menerapkan proses verifikasi ODF ini dengan serius terlihat dampak perkembangan yang signifikan dari pencapaian hasil perubahan perilaku masyarakat untuk tidak buang air besar lagi di sembarang tempat.
Kabupaten Gresik contohnya, sejak tim SToPS mengenalkan verifikasi ODF dari mulai awal pendampingan intensif di kabupaten Gresik pada akhir Oktober 2009, dalam kurun waktu 3 bulan telah mendorong terhadap percepatan pencapaian komunitas ODF di Gresik. Dalam 3 bulan wilayah kerja Puskesmas Kesamben Kulon yang terdiri dari 6 desa telah dapat mencapai status ODF. Tidak mau tertinggal oleh Puskesmas tetangganya yang berada dalam 1 wilayah kecamatan, Puskesmas Wringinanom pun dapat menyusul ODF wilayah kerjanya 2 bulan kemudian. Setelah 5 bulan kabupaten Gresik mendapatkan intervensi dari program SToPS, telah ada 1 kecamatan ODF, yaitu kecamatan Wiringinanom yang didalamnya terdapat 2 Puskesmas.
APA YANG TIDAK BERJALAN?
Verifikasi ODF masih dipahami sebagai event bukan bagian dari sistem monitoring secara menyeluruh, sehingga proses verifikasi belum melekat dalam proses monitoring rutin dalam memantau progress.
Verifikasi ODF belum dilakukan secara menyeluruh dan belum ada dorongan kuat dari provinsi untuk menjadikan dan melakukan proses verifikasi ODF secara berkala untuk memastikan perilaku masyarakat di komunitas yang telah mencapai ODF tidak kembali lagi ke perilaku sebelumnya.
SEJAUH MANA VERIFIKASI ODF MAMPU MENGATASI PENANGANAN DAN PEMBUANGAN KOTORAN ANAK-ANAK DENGAN AMAN? CUCI TANGAN DENGAN SABUN?
Bila proses verifikasi ODF berjalan dengan baik dan menjadi bagian dari sistem monitoring, bukan sekedar event, dan dipahami dengan baik oleh para pengelola program, pelaku monitoring dan masyarakat sasaran, dapat diyakini bahwa proses ini dapat mempertahankan proses perubahan perilaku masyarakat yang telah terjadi di masyarakat.
Dalam verifikasi ODF ada mekanisme kontrol untuk menjaga kesinambungan perubahan perilaku yang ingin dicapai masyarakat. Diakhir proses verifikasi ODF, tim verifikasi akan menyampaikan hasilnya dan terjadi diskusi tentang bagaimana menjaga perilaku masyarakat yang telah berubah tadi, dan berlanjut kepada adanya kontrol sosial atau sanksi yang dilegalkan dalam aturan masyarakat atau peraturan desa (perdes).
Bentuk sanksi yang muncul antara lain:
  • Pelaku OD yang tertangkap, difoto dan diekspos di balai desa dan tempat umum lainnya (di Trenggalek);
  • Di salah satu desa di Nganjuk, masyarakat yang ketahuan masih BAB di sembarang tempat, diberi sanksi untuk mengumpulkan batu kali sebanyak 1 m3;
  • Di salah satu desa di Sampang, sanksi kepada yang ketahuan masih BAB di sembarang tempat adalah denda Rp.100.000 per kejadian atau 1 sak semen (50 Kg).

0 komentar:

Poskan Komentar

Blogger news